27 Januari 2011

Biola Lana :)

“Braaaak...” terdengar suara sepatu dibanting. Ayah pun menghampiri ke luar. Ternyata Lana yang membanting sepatunya. “Lana... kamu kenapa? Kok sepatunya dibanting begitu sih? Nanti rusak lho.” Tanya Ayah kepada Lana. “Huh, Ayah nggak nepatin janji ke Lana. Lana kan minta dibeliin biola baru dari 2 minggu yang lalu. Tapi sampai sekarang Ayah nggak beliin Lana biolanya. Biola Lana kan rusak.” Jawab Lana dengan bibir cemberut. “Iya sayang, Ayah pasti kasih Lana biolanya. Tapi Ayah nggak bisa beliin sekarang, Ayah masih sibuk banget sama kerjaan Ayah. Lana bisa ngerti kan?” Kata Ayah dengan sabar. “Nggak. Lana kan udah lama mintanya sama Ayah, masa sampai sekarang Ayah sibuk terus? Bilang aja Ayah nggak mau beliin Lana biola.” Kata Lana lagi dengan kesal. Lana pun masuk ke kamarnya tanpa cuci kaki dahulu. Ayah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Lana. 
Di kamarnya, Lana memandangi biola lamanya yang rusak. Sebenarnya biola Lana tidak rusak, namun Lana ingin dibelikan biola baru oleh ayah makanya dia selalu bilang biolanya rusak. Sejak ia melihat biola yang dipajang di toko musik dekat rumahnya, Lana sangat ingin memilikinya. Di mata Lana, biola itu memiliki warna dan ukiran yang bagus dibandingkan biola miliknya yang lama. Biola itu pun harganya mahal. Lana membayangkan dirinya sedang menggesek biola itu sambil tersenyum. “Haaaah... senangnya kalau punya biola sebagus itu.” Kata Lana dengan senang. 
Sebenarnya, Ayah Lana adalah seorang pembuat alat musik. Beliau biasa mendapat pesanan untuk membuat gitar, gendang, drum, bahkan biola. Biola Lana yang lama pun dibuat oleh Ayah untuk Lana. Pada waktu itu Lana senang sekali, sehingga ia belajar biola dengan semangat sampai akhirnya ia melihat biola yang bagus itu. 
Saat pagi, Lana sarapan di meja makan bersama Ayah namun ia diam saja. “Lana, makan yang banyak dong. Nanti kamu di sekolah lapar lho. Kenapa sih kamu diam saja? Masih ingin biola baru?” Tanya Ayah kepada putri semata wayangnya. Lana hanya memandang Ayah dengan cemberut. Saat selesai sarapan, Lana berlari menuju jemputan yang sudah menunggunya. Lana lupa tidak berpamitan dengan Ayahnya. 
Hari ini di sekolah Lana adalah pelajaran seni musik. Pelajaran seni musik adalah pelajaran favorit Lana, namun hari ini ia sama sekali tidak semangat mengikuti pelajaran kesukaannya. Ia ingat dengan biola yang bagus itu dan ia pun kembali murung. “Lana, kenapa kamu diam saja? Biasanya kamu semangat kalau pelajaran seni musik.” Tanya Bu Guru yang datang menghampiri meja Lana. “Tidak apa-apa Bu. Biola saya yang lama rusak, jadi sudah lama saya tidak berlatih.” Jawab Lana. “Kenapa kamu tidak minta Ayahmu untuk memperbaiki biolamu? Ayah Lana pasti bisa memperbaikinya.” Kata Bu Guru memberi saran. “Saya ingin biola baru Bu, bukan biola lama yang butut itu.” Jawab Lana pelan. “Oh begitu, tapi kalau biola lamanya masih bisa dipakai sebaiknya Lana latihan sebentar. Pentas seni sekolah kita kan 3 hari lagi. Ibu tahu permainan biola Lana itu bagus sekali.” Kata Bu Guru menghibur Lana. Lana tetap cemberut. 
Setelah pulang sekolah, Lana diminta untuk latihan sebentar dengan biola sekolah oleh Bu Guru. Lana ogah-ogahan latihan dengan biola sekolah. Saat memainkan biola itu Lana merasa aneh. Ia merasa kalau biola lamanya di rumah jauh lebih enak dimainkan dibandingkan dengan biola milik sekolah. Berulang kali Lana melakukan kesalahan dalam latihannya, padahal Lana hapal dengan lagu itu. 
Di rumah, Lana mencoba memainkan biola lamanya. Ia latihan lagu yang akan dibawakannya nanti saat pentas seni. Pentas seni itu akan ditonton oleh orang tua masing-masing. Lana sebenarnya tidak ingin mengecewakan Ayah, makanya ia mencoba untuk latihan biola lagi walaupun ia masih kesal karena Ayah tidak kunjung memberinya biola baru. Dalam waktu singkat, Lana berhasil menguasai lagu tersebut. Lana merasa senang sekali. Jam 9 malam Lana pun tidur supaya besok tidak terlambat datang ke sekolah. 
Di sekolah, Lana merasa ia sangat bersemangat. Saat latihan biola sehabis pelajaran selesai pun diikuti Lana dengan serius. Ibu guru tentu senang dengan perubahan sikap Lana yang menjadi bersemangat. 
Pentas seni sekolah Lana akan dimulai besok. Tiba-tiba Lana merasa grogi dan deg-degan. Lana lantas mengulang not-not lagu dan menghapalkannya lagi untuk pentas besok. 
Paginya, Lana diantar Ayah ke sekolah naik bis. Ayah akan menghadiri pentas seni sekolah Lana. Sebenarnya Lana masih mengharapkan Ayahnya membelikan biola lagi untuknya. “Lana, kamu takut ya?” Tanya Ayah saat berada di dalam bis. “Nggak juga, Lana cuma pengen biola baru. Kalo Lana punya biola baru kan enak, Yah. Lana pasti tambah semangat latihan.”Jawab Lana datar. Ayah hanya tersenyum mendengar jawaban anaknya. Saat bis sedang melaju, tiba-tiba ada seorang pengamen cilik membawa biola. Pengamen itu lantas bernyanyi dan memainkan biolanya dengan bagus sekali. Lana tampak heran dan bingung, kok bisa ya pengamen cilik itu bermain biola dengan bagus? Padahal kan biolanya jelek, lebih jelek dari pada kepunyaanku, pikir Lana. Lana terus memerhatikan pengamen cilik itu. Tentu saja Lana juga memerhatikan gerakan tangannya yang memainkan biola. 
Saat pengamen cilik itu selesai mengamen, Lana bertanya pada Ayahnya. “Ayah, kok pengamen itu bisa bernyanyi dengan bagus yah? Padahal kan biola miliknya jelek Yah.”.”Anakku Lana, kamu jangan memerhatikan bagus tidaknya alat musik yang dipakai pengamen itu. Biola itu jelek karena ia membuatnya sendiri. Hasilnya memang tidak terlalu bagus, tapi suaranya bagus sekali. Bermain biola itu menggunakan hati dan perasaan yang ikhlas dan halus. Lana harus seperti itu ya kalau ingin bermain biola dengan baik.” Jawab Ayah bijaksana. Mendengar penjelasan itu, Lana merasa malu. Ia yang memiliki biola lebih bagus dari pengamen itu selalu meminta biola baru kepada Ayahnya. Mulai saat ini Lana akan bermain dengan perasaan tulus! Ucap Lana dalam hati. 
Saat pertunjukkan dimulai, Lana memainkan biolanya dengan indah dan merdu sekali. Semua penonton terkesima dengan permainan biola Lana. Ayahnya pun melihatnya dengan bangga. Di akhir acara, Lana mengucapkan, “Permainan saya ini saya persembahkan untuk Ayah saya yang paling saya sayangi. Ayah terbaik di dunia. Saya berjanji pada diri saya sendiri, mulai sekarang saya akan selalu ikhlas dan menuruti kata-kata Ayah saya. Terima kasih Ayah.” Perkataan Lana membuat Ayah terharu. Lana pun senang, meskipun ia tidak mendapat biola baru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar